Fahri Hamzah : Indeks demokrasi menurun, ini tantangan serius Partai Politik

0
200

PORTALSULTENG.COM, – Politisi Partai Gelora, Fahri Hamzah mengkritik menurunnya Indeks Demokrasi RI. The Economist Intelligence Unit (EIU) baru saja merilis Laporan Indeks Demokrasi 2020. Indonesia menduduki peringkat ke-64 dengan skor 6.3.

Meski dalam segi peringkat Indonesia masih tetap sama dengan tahun sebelumnya, namun skor tersebut menurun dari yang sebelumnya 6.48.

Fahri mengatakan, dengan data tersebut dapat diartikan bahwa Indonesia bisa menjadi negeri otoriter, yang nanti bisa berujung anarki di tengah bangsa demokrasi.

“Artinya, kita di bibir otoritarianisme dan anarki,” kata Fahri dalam webinar dengan tema “Partai Politik & Tantangan Demokrasi Terkini”, Kamis (11/2/2021).

Lebih lanjut, Fahri menyebut kehidupan demokrasi di Indonesia bisa terancam, karena pemimpin tidak bisa memahami gambaran besar bangsa ke depan. Ditambah lagi dengan tidak paham cara membuat dan komitmen pada sebuah perencanaan

Selain itu, dia juga mengkritik kehidupan demokrasi di Indonesia yang tidak seimbang. Di satu sisi pemerintah meminta kritik dan di sisi lain para pengkritik di proses hukum.

Kita butuh kritik tapi di luar sana orang ditangkap juga, di jemput juga,” tegas mantan Wakil Ketua DPR RI itu.

Fahri menyampaikan, ada 3 cara untuk menjaga demokrasi di Indonesia. Pertama, berkomitmen pada narasi demokrasi; kedua, penguatan institusi yang terus menerus; ketiga, Leadership.

Sementara itu, partai politik sebagai salah satu pilar penting dalam demokrasi justru saat ini mendapat tantangan berat khusunya di kalangan generasi muda yang tidak tertarik terhadap partai politik. Padahal jumlah komposisi pemilih muda khususnya kamum milenial di 2024 sudah dominan.

Djayadi Hanan, Direktur Eksekutif Lembaga Survey Indonesia menyatakan, bahwa data BPS 2020 menunjukkan bahwa usia pemilih muda adalah yang dominan dan kecenderungan yang kuat sebagai pengguna internet dan sosial media.

“Sekarang banyak anak muda yang ingin berbuat baik, menjadi relawan, ingin menciptakan perubahan. Mereka sukses walau tak pernah ikut organisasi. Tapi mereka masih menjaga jarak dengan parpol,” papar Djayadi Hanan atas pendapat kaum milenial saat ini.

Kegiatan webiner yang diselenggarakan oleh Moya Institute ini juga turut menghadirkan pembicara Faldo Maldini, Jubir PSI dan Prof Imron Cotan pemerhati politik.

Sementara Prof Imran Cotan tetap menaruh harapan kepada partai politik baru, khsusunya Gelora Indonesia yang mencoba memberikan ide baru.

“Saya surprise kepada paparan pak Mahfuz Sidik (Sekjen Partai Gelora) sebelumnya yang mencoba mengombinasikasn konsep kebangsaan dan keumatan sekaligus, tantanganya adalah sejauh mana konsep ini bisa diterima generasi x, y,z dan milenial saat ini”l,” papar Prof Imran Cotan. (Red)

Sumber: bukamatanews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here